Rabu, 01 April 2015

Komentar terhadap konflik antara Ahok Vs DPRD DKI Jakarta

Foto: Musmagz.com
Jakarta, Beritaempat-Konflik berkepanjangan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan DPRD DKI Jakarta makin melebar ke ruang publik. Reaksi masyarakat terus mengalir menghiasi dinamika perpolitikan Ibukota DKI Jakarta yang tak kunjung berakhir.

Direktur Eksekutif Human Studies Institut (HSI) Rasminto, menanggapi polemik tersebut seperti drama berseri, tak kunjung usai, hanya rakyat DKI Jakarta yang jadi korban.

“Ini layaknya sebuah drama berseri yang tak elok dipandang sebagai perwujudan demokratisasi Jakarta sebagai Ibukota Negara,” kata Rasminto, yang didampingi Direktur Kajian HSI, Surya Muhammad Nur, saat ditemui di kantornya, Matraman, Jumat (20/03) malam.
Rasminto mengakui, Ahok memiliki figur yang tegas dan tanpa kompromi, itu terliat saat suami Beronika Tan itu berkomunikasi dengan partner kerjanya di DPRD DKI Jakarta. Sistem administrasi Pemprov DKI mulai dibenahi dengan menggunakan e-Govermen menuai simpati rakyat.
“Namun sayang, program tersebut tidak dilandasi dengan aturan perundang-undangan yang benar. Padahal kehadirannya sangat diharapkan masyarakat Jakarta untuk menciptakan cek and balance yang tepat sasaran,” ujar Rasminto.
Ia menegaskan, program e-budgeting Ahok melanggar UUD 1945, sebab DPRD sebagai fungsi legislatif di daerah mempunyai Hak budgeting yang berhak membahas APBD secara bersama-sama, bukan hanya hak eksekutif.
“Prahara Ahok dengan DPRD ini sangat memalukan kehidupan berpolitik di Indonesia, jika diibaratkan Ahok dan DPRD seperti Tommy dan Jerry (tokoh kucing dan tikus dalam serial kartun anak-anak,-red) silahkan diterka siapa Tommy siapa Jerry,” paparnya.
Surya menimpali, kekisruhan Ahok dengan DPRD DKI Jakarta yang dipertontonkan melalui layar televisi, dalam persektif pendidikan sangat tidak mendidik masyarakat di seluruh Indonesia.
“Sikap Ahok sebagai pemimpin tidak mencerminkan etika leadership (kepemimpinan,-red) karena acap kali mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar di ruang publik,” tambah Surya.
Selain Ahok, HSI juga menilai sikap DPRD yang tidak memberikan keterwakilan masyarakat di parlemen, mereka hanya meributkan sesuatu untuk kepentingan pribadi dan golongannya.
“Alangkah eloknya jika Ahok dan DPRD membicarakan program pembangunan Jakarta secara bersama-sama dan tidak mengandalkan ego masing-masing,” pungkasnya.
Sumber:

Kumpulan Berita Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014




RMOL. Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014 harus menjadi momentum revitalisasi posisi dan peran pemuda agar dapat menjadi aktor penggerak, perekat dan pemersatu bangsa. 

Faktanya, keberadaan pemuda yang bisa mengembangkan potensi dan kepeloporannya sehingga menjadi central of point pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan UU No 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan masih jauh panggang dari api.

"Pemerintah telah gagal menjalankan UU Kepemudaan. Setelah hampir  lima tahun UU dikeluarkan, belum ada tindakan serius yang dilakukan pemerintah khususnya Kemenpora," ujar Rasminto, Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jakarta Timur dalam surat elektroniknya (Senin, 17/10).

Amanat penting UU Kepemudaan yang belum dijalankan salah satunya adalah masih banyak organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pengurusnya di atas usia 30 tahun. Padahal yang disebut pemuda sebagaimana dimaksud Pasal 1 ayat 1 UU Kepemudaan maksimal berusia 30 tahun.

"Kalau Kemenpora tegas dan konsisten harusnya OKP yang melanggar ditindak. Jika perlu OKP yang nakal tak lagi diberi fasilitas anggaran dari APBN/APBD sampai benar-benar melakukan regenerasi," papar Rasminto.

Tugas ini, diharapkan Rasmito, diselesaikan Menpora baru, Imam Nachrowi. Sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Jawa Timur, dia tentu memiliki pengalaman bagaimana menangani problematika dan dinamika kehidupan di organisasi kepemudaan.

"Imam Nachrowi harus jeli memilih pembantunya di Kemenpora. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama seperti dua edisi Menpora sebelumnya yang tidak mampu menjalankan amanat UU Kepemudaan," demikian Rasminto.[dem]


RADAR-INDO.COM, JAKARTA - Tepat pada hari ini Selasa tanggal 28 Oktober 2014, bangsa Indonesia memperingati momen bersejarah 86 tahun Sumpah Pemuda - di mana sumpah pemuda 1928 menjadi momentum bangsa Indonesia membangun gerakan menggapai cita-cita suci perjuangan dan merdeka dari kolonialisme Belanda. 

Dengan segala keterbatasan dan tantangan pada saat itu, pemuda Indonesia dapat menyatukan visi besar sebagai Bangsa yang berdaulat. 

Di sinilah secara de facto awal lahirnya bangsa Indonesia, melalui  janji suci yang dituangkan dalam sumpah pemuda yang menyatakan bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, Bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Gerakan generasi ini menguatkan tekad generasi 1945 yang membawa bangsa ini merebut kemerdekaannya dari kolonialisme Belanda.

Lalu perjalanan sejarah pemuda selalu mewarnai perjuangan bangsa ini, di mana generasi 1966 dapat mengakhiri Orde Lama dan Generasi 1998 menjadi simbol reformasi dengan menumbangkan rezim Orde Baru.

Dalam rangka merevitalisasi peran pemuda Indonesia agar dapat menjadi aktor penggerak, perekat dan pemersatu bangsa, maka, pada 5 tahun yang lalu, kemenpora menginisiasi terbitnya UU No.40 tahun 2009 tentang kepemudaan. Hal ini disambut suka cita oleh masyarakat luas, khususnya pemuda. Karena pada substansi UU kepemudaan tersebut menempatkan kesempatan bagi pemuda untuk mengembangkan potensi dan kepeloporannya untuk dapat action  di berbagai kehidupan bermasyarakat serta mampu berkompetisi dalam wadah organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan yang akhirnya para pemuda nantinya menjadicentral of point pembangunan nasional dengan segala potensinya.  


Kenyataannya pemerintah gagal dalam menjalankan UU Kepemudaan tersebut.  Karena setelah hampir  lima tahun UU ini dikeluarkan, belum ada tindakan serius yang dilakukan pemerintah khususnya kemenpora sebagai kementerian terkait, terutama berkenaan dengan usia pemuda maksimum 30 tahun sesuai dengan amanat UU No.40/2009 Pasal 1 ayat 1 menyebutkan “Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun”. Namun, banyak organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pengurusnya di atas usia 30 tahun. 

Semestinya jika kemenpora tegas dan konsisten menegakkan UU ini, kemenpora dapat menindak OKP yang melanggar. Jika perlu yang selama ini memfasilitasi kegiatan pemuda oleh OKP melalui APBN/APBD dihentikan sampai benar-benar mereka mentaati dengan melakukan regenerasi sesuai yang diamanahkan  UU kepemudaan.

Kemarin (27/10) Presiden Jokowi  baru saja melantik Imam Nachrowi sebagai Menteri Pemuda dan Olahraaga pada Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Imam Nachrowi sebagai Menpora memiliki riwayat di organisasi Kepemudaan sebagai Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Jawa Timur. Tentunya Menpora yang baru ini memiliki pengalaman bagaimana menangani problematika dan dinamika kehidupan di organisasi kepemudaan. Harapanpun  membumbung tinggi dalam membawa Pemuda Indonesia sebagai penerus bangsa ini. Oleh karena itu, Imam Nachrowi sebagai Menpora harus jeli memilih pembantunya di kemenpora. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama seperti 2 edisi Menpora sebelumnya di era Kabinet Indonesia Bersatu II yang tidak mampu menjalankan amanat UU Kepemudaan.



Sumber: 

http://www.rmol.co/read/2014/10/28/177552/Menpora-Baru-Wajib-Tertibkan-OKP-Nakal-

http://www.radar-indo.com/2014/10/gagalnya-implementasi-uu-kepemudaan.html

http://www.indopos.co.id/2014/10/pemuda-soroti-gagalnya-implementasi-uu-kepemudaan.html

http://radarsukabumi.co.id/wp-content/uploads/pdf2014/10/RADAR%20SUKABUMI%2028-10-2014.pdf

Kumpulan Tugas Matakuliah Geografi Penduduk

Masukan postingan tugas anda dalam komentar pada Judul Kumpulan Tugas Matakuliah Geografi Penduduk ini, dengan menyertakan identitas kelompok:

Jumat, 17 Januari 2014

Buku Setengah Abad Menwa Jayakarta

Buku Setengah Abad Resimen Mahasiswa Jayakarta berisi tentang kilasan perjalanan sejarah Resimen Mahasiswa Jayakarta yang penuh liku dan tantangan serta gagasan-gagasan cerdas dari para tokoh alumni Menwa sendiri maupun tokoh-tokoh nasional yang telah merasakan manfaat keberadaan Menwa selama bermitra dengan Menwa Jayakarta.

Semoga hadirnya Buku Setengah Abad Resimen Mahasiswa Jayakarta yang ditulis oleh Letjend. TNI Waris, Prof. Dr. Armai Arief, MA, Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Irjend.Pol. Bambang Suparno, Dr. Agus Sutiyono, Mayjend.TNI. Hartind Asrin dkk ini dapat menambah wawasan dan referensi tentang Resimen Mahasiswa yang dirasakan sangat sedikit sekali kehadirannya di tengah-tengah kita.



Berikut link buku ini yang dapat diunduh secara gratis oleh Bapak/Ibu sekalian.


ml.scribd.com

Selamat membaca.

Wassalam,
Rasminto

Kamis, 16 Januari 2014

Tugas Membuat Opini Matakuliah Sosiologi

Tugas Individu Membuat Opini Matakuliah Sosiologi
Jurusan Geografi FKIP UNISMA Bekasi

I. Pedoman Penulisan
    Buatlah opini tentang permasalahan sosial yang sering terjadi di lingkungan sehari-hari, selanjutnya opini tersebut diupload di forum www.kompasiana.com (www.kompasiana.com/registrasi). Dengan tata cara sebagai berikut:
1. Buatlah opini dengan sistematika penulisan seperti di bawah ini
2. Selanjutnya opini tersebut diupload di www.kompasiana.com
3. Setelah opini sudah diupload selanjutnya tautan opini tersebut dimasukan ke alamat blog www.rasminto-rasminto.blogspot.com.

II. Pilihan Tema Besar
    Pilihan tema besar sesuai urutan nomor absen di bawah ini:
  1. Proses sosial dan interaksi sosial (absen no.1 s.d 4)
  2. Kelompok- kelompok sosial (absen no.5 s.d 8)
  3. Manusia dan budaya (absen no.9 s.d 12)
  4. Lembaga kemasyarakatan (absen no. 13 s.d 16)
  5. Stratifikasi sosial (absen no. 17 s.d 19)
  6. Kekuasaan dan kewenangan (absen no.20 s.d 23)
  7. Perubahan sosial dan kebudayaan (absen no. 24 s.d 26)
III. Sistematika penulisan
     Mahasiswa dalam membuat opini berdasarkan sistematika penulisan di bawah ini:
    1. Judul
        Judul opini berpedoman pada tema besar yang ada di atas.
    2. Isi tulisan
        Isi tulisan berisi:
        a. Paragraf 1 berisi latar belakang masalah
        b. Paragraf 2 berisi gagasan tulisan
        c. Paragraf 3 berisi ulasan dari gagasan 
        d. Paragraf 4 berisi kritik sosial/saran
   3. Nama Penulis
       Nama penulis dicantumkan di kolom bawah paling kanan berisi nama jelas, jurusan dan angkatan. Contoh: Dimas Setiadi-Jurusan Geografi FKIP Unisma Angkatan 2012.
Hal-hal lain: Disarankan untuk ditambahkan ilustrasi berupa gambar/foto/skema dalam tulisan opini.

Contoh Opini di Kompasiana.com:

IV. Batas Pengumpulan Tugas
      Batas pengumpulan tugas opini sampai dengan hari Rabu, 22 Januari 2014 Pukul 16.00 Wib

Selamat mengerjakan....

Sabtu, 09 November 2013

Soal UTS Sosiologi Kelas B




Soal Ujian Tengah Semester Matakuliah Sosiologi

Jurusan: Geografi
Kelas: Semester III Kelas B No.Absen 14 s.d 26
Sifat: Close Book
Waktu: Senin, 11 November 2013
Dosen: Rasminto, M.Pd

1. Maraknya kasus kekerasan pada anak akhir-akhir ini disebabkan karena menurunnya rasa sosial di antara warga. Masyarakat, khususnya di kota-kota besar cenderung cuek dan enggan bersosialisasi. Karena rasa antisosial itulah, maka kekerasan pada anak sering terjadi. Menurut anda bagaimana rasa antisosial itu dapat berkembang pada masyarakat kita yang sebenarnya memiliki ciri-ciri suka bergotongroyong, rasa kekeluargaan dan rasa persatuan dan kesatuan? Serta bagaimana seharusnya interaksi sosial yang dilakukan pada kelompok masyarakat yang antisosial tersebut?.

2. "Tanpa orang Kristen, Hindu, Buddha, atau Konghucu, Indonesia bukan lagi Indonesia". Jelaskan kenapa demikian berdasarkan teori sosial yang sudah dipelajari.

3. Jelaskan ciri-ciri kelompok cendikiawan dan pengaruhnya terhadap masyarakat?

*****Selamat mengerjakan*****

Jumat, 08 November 2013

Soal UTS Sosiologi Kelas A



Soal Ujian Tengah Semester
Matakuliah Sosiologi
Kelas: Semester III Kelas A No.Absen 1 s.d 13
Jurusan: Geografi UNISMA Bekasi
Waktu: Senin, 11 November 2013
Dosen: Rasminto,M.Pd

1. Ribuan massa kaum buruh melaksanakan aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia yang menuntut penghapusan sistem outsourching dan upah yang layak. Gerakan massa ini secara tidak langsung membuat Kepala Daerah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 5% sampai 25% dari UMP semula. Menurut anda fenomena yang terjadi ini berkaitan dengan interaksi yang terjadi di dalam kaum buruh seperti apa sehingga menghasilkan gerakan sosial yang begitu masif serta bagaimana tatanan kelompok sosial yang ada di dalam kelompok buruh tersebut?

2. Sebutkan masing-masing tiga buah kelompok formal dan informal serta uraikan kedudukan dan tugas fungsinya di masyarakat?

3. Jelaskan permasalahan internal dan eksternal yang sering timbul di dalam kelompok sosial?

*****Selamat mengerjakan*****


Jumat, 16 Agustus 2013

NILAI UJIAN AKHIR SEMESTER 
MATA KULIAH PROFESI KEGURUAN
STIKIP PANCA SAKTI

  1. Teresia Rosalina Neri (nilai 81)
  2. Patimah (nilai 85)
  3. Endang S (nilai 76)
  4. Yulia B Bupu (nilai 71)
  5. Yuyun Darwati (nilai 94)
  6. Dewi Nur Rohmaniah (nilai 95)
  7. Merry Herawati (nilai 70)
  8. Susi Herawati (nilai 70)
  9. Anastasia Dholo (nilai 70)
  10. Yunita Rahmi (nilai 100)
  11. Sulistiowati (nilai 100)
  12. Wiwik Nurmaningsih (nilai 100)
  13. Shelvian P. Maqdis (nilai 95)  

                                                                             TTD 
                                                                   Dosen Pengampu
                                                                           Rasminto

Selasa, 30 Juli 2013

Silaturahmi FPPI dengan Danjen Kopassus: Silaturahim sebagai bagian solusi pemecahan masalah bangsa

Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo memberikan
Cinderamata kepada perwakilan peserta Silaturahmi (dok.Penkopassus)
Rasminto Koordinator FPPI selaku Ketua Internal Panitia
memberikan sambutan (dok.Penkopassus)
JAKARTA----Forum Pelajar dan Pemuda Indonesia (FPPI) baik dari dalam dan luar negeri mengadakan pertemuan yang dikemas dalam bentuk silaturahmi dan buka puasa bersama (Bukber). Kali ini,  ajang silaturahmi antara pelajar dan pemuda Indonesia ini membahas “Bagaimana membangun sinergisitas semangat sumpah pemuda 1928”, Minggu (28/7/2013). 

Acara yang berlangsung di gedung Candraca, Cijantung, Jakarta Timur itu dihadiri 300an mahasiswa dan pelajar Indonesia dari beberapa negara. Dari dalam negeri dihadiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabotabek seperti BEM UI, BEM UNJ, BEM Trisakti dan lain sebagainya. Sedangkan peserta mahasiswa dan pelajar Indonesia dari luar negeri dihadiri PPI Singapura, PPI Jordania, PPI Jerman, PPI Brunei Darussalam, PPI Thailand, dan PPI Malaysia.

Menurut koordinator acara, Rasminto bahwa forum silaturahmi ini menjadi momentum berharga dalam membangun semangat sumpah pemuda 1928 dengan membangun sinergisitas pelajar di dalam negeri dan pelajar di luar negeri. Ia mengatakan, pemuda kini harus menjadi  aktor perjuangan, aktor pembaharuan dan aktor pembangunan bangsa. Karena di tangannya para pemuda ini bangsa Indonesia bisa maju.

“Di mana Indonesia lahir karena semangat nasionalisme Soekarno dan Hatta yang masing-masing mewakili pelajar pemuda Indonesia dalam dan luar negeri ketika itu. Kita menyadari bangsa ini perlu melibatkan pemuda dalam membangun bangsanya. Tanpa pemuda bangsa ini akan kekurangan eksistensinya di dalam negeri, termasuk di dunia internasional,” jelas Rasminto yang juga mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta ini, semangat.

Kordinator PPI Asean, Ivan Barus mengungkapkan, silaturahmi ini sangat penting untuk menepis isu bahwa mahasiswa dan pemuda Indonesia yang belajar di luar negeri bukan kelompok pemuda eksklusif. Namun, dirinya dan temannya di luar negeri termasuk pemuda yang sangat peduli akan nasib bangsa. Dengan alasan itu, katanya PPI melakukan langkah konkrit dengan memberikan advokasi dan memfasilitasi para TKI yang bermasalah di luar negeri. Selain itu PPI diluar negeri meluruskan isu negatif seputar Indonesia di tempat mereka belajar.

Danjen kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo yang sempat hadir pada acara Bukber tersebut memberikan motivasi pada peserta FPPI bahwa anak muda memiliki fungsi strategi dalam negaranya. Ia juga mengungkapkan, acara semacam ini sebaiknya digunakan pemuda membangun silaturahmi membahas persoalan negara untuk mencari solusi mengatasi persoalan bangsa. Kehadiranya Mayjen Agus Sutomo memberikan energi positif bagi mahasiswa sebagai bekal meretas masa depannya.

“Saya berpesan bahwa modal utama yang perlu dimiliki pemuda mengatasi masalah bangsa ada tiga. Pertama, mencari ilmu setinggi-tingginya. Kedua, berakhlak mulia. Tiga, bertindak nyata. Ia juga menjelaskan bahwa Kopasus (Komando Pasukan Khusus) itu adalah milik semua rakyat. Dan semua warga negara bisa menggunakan fasilitas Kopasus ini untuk kepentingan yang berguna,” ujar Danjen kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo. Turut hadir pada acara tersebut Wadanjen Kopassus Kol.Inf. M. Herendra, Para Asisten Danjen, Para Dansat dan Kabalak Kopassus. (HMS)
Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo Foto bersama perwakilan peserta (Dok.Penkopassus)


Selasa, 09 Juli 2013

Diskusi Akademis Wingdiktekkal Kodikau

Bersama Waaspam Kasau sebelum memulai acara Diskusi


Lettu.Kal. Gilang R sebagai moderator membuka acara Diskusi Sesi Pertama

Pemaparan Materi "Strategi Pendidikan Modern untuk
Meningkatkan Kualitas Perwira Logistik"  untuk Perwira Kodikau

Pemberian cindramata oleh Danwingdiktekkal
Kol. Tek. Sigit Priyono GSC, S,Ip, M,Sc.

Wingdiktekkal kembali menggelar diskusi akademis denganl substansi, perkembangan lingkungan strategis dan global energy security dan mengambil tema “dinamika implementasi pengelolaan BMP dalam energy security untuk kepentingan pertahanan Negara”, bertempat di Aula Wingdiktekkal, Bandung. Rabu, (3/6). Tampil sebagai narasumber pada diskusi akademis kali ini Aspam Kasau yang diwakili oleh Waaspam Kasau, Dosen UNJ, Rasminto yang mewakili Kaprodi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Dr, Thamrin Abdullah, M.Pd,  Kasubdis Dukbinmat, Kolonel Kal Agus Ismanto dan Dirjiandik Kodikau Kolonel Pnb Asep Chaerudin.
Dalam sambutan singkatnya Komandan Wing Pendidikan Teknik dan Pembekalan Kolonel Sigit Priyono,GSC,S.IP.,M.Sc. mengatakan, maksud dan tujuan serta pentingnya kegiatan yang melibatkan siswa Suspa BMP angkatan 11 ini adalah untuk melatih dan membudayakan perwira siswa melalui diskusi akademis dalam merubah mind set tradisional menuju mind set akademisi melalui peran steering comite, organizing comite, notulen, moderator, dan memetik pengalaman dari perwira senior sebagai narasumber yang bertujuan mendapatkan perubahan, kesepakatan dan rekomendasi sebagai langkah strategis bagi pengembangan organisasi TNI AU

Selasa, 23 April 2013



SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER
MATAKULIAH GEOMORFOLOGI TERAPAN
JUMAT, 26 APRIL 2013

NO
SOAL
SKOR
1
Jelaskan istilah dari:
a.   Relief
b.   Topografi
c.   Geomorfologi
d.   Denudasional
e.   Grand canyon

15
2
Sebutkan dan jelaskan klasifikasi relief berdasarkan orde yang ada!
15
3
Jelaskan Perbedaan masyarakat yang tinggal di lereng atas gunungapi dengan yang tinggal di dataran fluviovulkanik dalam hal memanfaatkan sumber daya air!
25
4
Analisis pengelolaan sungai dari hulu ke hilir (pesisir) berdasarkan aspek geomorfologi yang didasari konsep  ekohidrolik


25
5
Sebutkan dan Jelaskan tahapan prosedur intrepretasi Geomorfologi!

20


Keterangan:
- Jawaban dikerjakan pada lembar jawaban yang disediakan TU
- Jawaban dikumpulkan pada Jum'at, 3 Mei 2013
- Dilarang keras copy paste jawaban dari teman!



****SELAMAT MENGERJAKAN****

Minggu, 21 April 2013


SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER MATAKULIAH GEOGRAFI PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
SENIN, 22 APRIL 2013

           
No
Soal
Skor
1 Jelaskan pengertian perencanaan wilayah!
10
2    Jelaskan Pendekatan-pendekatan dalam Perencanaan Wilayah!
       
15
3
       Sebutkan dan jelaskan pembagian jaman perkembangan perencanaan wilayah di Indonesia.
       
15
4
    Jelaskan kompleksitas masalah dan pendekatan perencanaan di Indonesia pada tahun 80 an sebelum otonomi daerah.

15
5
Jelaskan Faktor-Faktor dalam Perencanaan Wilayah!

15
6
Mengapa optimalisasi penyelenggaraan fungsi perencanaan nasional dan fungsi penganggaran sangat diperlukan demi terwujudnya visi, misi, dan program-program pemerintah untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan dalam Mukadimah UUD 1945?                    
30
Total Skor
100


*Jawaban diterima sebelum tanggal 28 April 2013 Pk.23.59 wib!
*Tuliskan nama dan No.registrasi mahasiswa pada lembar jawaban!

*****Selamat mengerjakan*****

Minggu, 29 Juli 2012

TUGAS BERAT RESIMEN MAHASISWA JAYAKARTA “MUSUH ITU ADALAH KAWAN SENDIRI”


TUGAS BERAT RESIMEN MAHASISWA JAYAKARTA
 “MUSUH ITU ADALAH KAWAN SENDIRI”
OLEH PUADI, S.Pd., MM

Pada zaman penjajahan dan zaman mepertahankan kemerdekaan kita melawan penjajah dengan meggunakan kekuatan senjata. Mahasiswa dan pelajar sebagai kekuatan intelektual kader bangsa tidak ketinggalan turut mempertahankan kemerdekaan dengan mengangkat senjata. Jejak dan sejarah bahwa mahasiswa dan pelajar memiliki andil dalam melawan penjajah dapat kita amati dari berdirinya Tentara Pelajar. Tentara Pelajar yang terdiri dari elemen mahasiswa dan pelajar pada waktu itu rela meninggalkan bangku sekolah dan mengangkat sejata dan bertempur, berperang mengusir penjajah Belanda.
Sejak berdirinya dari tahun 1945-1960 Bukan waktu yang singkat, Tentara Pelajar bersama Tentara Nasional Indonesia turut mengawal bangsa dan negara ini dalam melawan penjajah. Dengan semangat patriaotisme Tentara Pelajar dalam mengawal perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaanya. Nasionalisme yang tinggi menjadikan semangat para kaum muda terpelajar ini tidak pernah pudar dalam membangun Republik ini. Seiring dengan pertumbuhan Republik ini Tentara Pelajar (TR) pada tahun 1960 dirubah menjadi Wajib Latih Mahasiswa (WALAWA) dan tahun 1978 menjadi Resimen Mahasiswa (MENWA).
Di Jakarta Resimen Mahasiswa berdiri pada tahun 1962, sebuah masa yang dihadapkan pada sebuah dilematisasi dimana di Jakarta menjadi pusat pergerakan para pembrontak. PKI yang nyaru wuwus kembali tentunya akan lebih sulit dalam menghadapinya karena jelas yang kita hadapi bukan musuh atau penjajah tetapi yang kita hadapi adalah melawan bangsa sendiri. Resimen mahasiswa Jakarta pada dasarnya walaupun berada di Ibu Kota Negara memiliki peran yang sangat penting di Ibu Kota ini.
Seiring perkembangan waktu Resimen Mahasiswa Jakarta (Menwa Jayakarta) menjadi garda terdepan ditingkat pelajar dalam menanamkan rasa patriotisme dan nasionalisme kepada kawan sesamanya. Karena pada dasarnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga saat ini masih belum selesai terbukti dari adanya beberapa provinsi yang ingin memerdekakan diri. Sebut saja irian Jaya (Papua Barat), Nanggro Aceh Darussalam, dan beberapa provinsi lainya juga ada yang menyuarakan kemerdekaanya. Dan suara-suara kemerdekaan tersebut dalam melakukan konsolidasi berada di wilayah Ibu Kota Negara Jakarta.
Negara Islam Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi momok yang sangat dan perlu diwaspadai tentu menjadi tugas Resimen mahasiswa Jakarta. Ideologi trans nasional yang datang dari berbagai belahan dunia dan masuk ke Indonesia menjadikan sebuah masalah baru bagi rakyat Indonesia yang tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Saat ini ideologi trans nasional sudah mulai merasuki para kaum muda dan terpelajar diseluruh sekolah dan berbagai universitas.
Di universitas-universitas kini muncul gerakan pembebasan dimana gerakan tersebut ingin menjadikan Islam sebagai Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara Islam Indonesiapun berhasil memperdaya beberapa mahasiswa Universitas Indonesia dan universitas-universitas yang lain. Tidak segan-segan dalam melakukan aksinya para calon pelaku maker tersebut menculik, mencuri, menipu dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Dari beberapa kasus yang teridentifikasi oleh Kepolisisan Negara Republik Indonesia sudah banyak korban yang berhasil disadarkan kembali.
Tugas Resimen Mahasiswa semakin berat, karena mereka dalam menjalankan pengaruhnya sangat handal, lihai, dan hampir tidak ada perbedaanya namun sedikit demi sedikit rasa nasionalisme kita dikikis dan habis. Mereka melakukan penculikan secara biadab, mencuci otak dan membawa kabur sanak family keluarga saudara kita yang menjadi korban. Belum selesai disitu mereka juga membuat gerakan pembebasan di Universitas, Sekolah dan lembaga pendidikan. Kita kenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mana mereka selalu menyuarakan ideologi dan Hukum Syariat Islam di Republik Indonesia.  Dalam aksinya mereka sering melakukan aksi demonstrasi besar-besaran mengusung Syariat Islam sebagai Ideologi perubahan.
Mengganti Panca Sila, merubah UUD 1945 dengan hukum baru yang mereka sebut sebagai solusi di Republik tercinta ini. Dikhawatirkan pergerakan tersebut didanai oleh pihak asing yang ingin mencari dukungan Internasional dalam menjalankan pengaruhnya di NKRI. Mereka dalam mencari sasaranya lebih senang menggoyang ideologi kaum muda yang masih kosong dan mudah terombang ambing. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya kaum muda dan terpelajar harus lebih selektif dalam menerima transformasi ke-ilmuan agar tidak terjerumus menjadi korban penipuan.
Pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 dimana pada waktu itu ditetapkan sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia juga bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan. Dimana  pada 9 Ramadhan adalah adalah 10 hari pertama Ramadhan disebut juga sepertiga pertama bulan Ramadhan.  Telah  diabadikan dalam pembukaan UUD 1945 dengan kalimat yang bunyinya “Atas Rahmat Allah yang Maha Kuasa…….” Sudah menjadi final bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi sebuah nilai tatanan dan tuntunan bagi kehidupan berbangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia..
Resimen Mahasiswa Memberikan Bimbingan Nasionalisme kepada kaum pelajar agar tidak dicuci otak untuk menjad makar
Resimen Mahasiswa Jayakarta sudah harus terbuka, melihat, meneliti dan menelaah perilaku kaum terpelajar kita di lingkungan Kampus dan sekolah. Sebagai elemen cadangan kemiliteran di Republik Indonesia Resimen Mahasiswa saat ini, memikul beban yang lebih berat, karena musuh saat ini adalah sahabat karibnya sendiri. Tugas yang diembanpun tidak main-main bukan hanya menanamkan nasionalisme kepada pelajar dan mahasiswa saja tetapi kepada adik-adiknya yang sekarang banyak menjadi korban hasutan sehingga menjadi ingin maker.
Universitas-universitas pun tak luput dari serangan ideologi yang ingin menghancurkan perjuangan bangsa ini dengan mengganti ideologi baru. Di universitas Indonesia sendiri yang menjadi pusat peradaban pendidikan di Jakarta bahkan menjadi sasaran empuk bagi para penghasut yang ingin menghacurkan keutuhan dan persatuhan Bangsa Indonesia. Nasionalisme dikikis, dihancurkan hingga luluh lantah berkeping-keping sehingga menjadi nilai patriotisme pemuda dan mahasiswa menjadi luntur. Walaupun hingga kini belum adala bukti autentik pasti, namun Universitaas Indonesia perlu diwaspadai terkait dengan ideologi selain Pancasila dan UUD 1945. Dari tampilan terlihat adanya indikasi seperti munculnya HTI di UI yang menginginkan juga berubahnya Indonesia menjadi Negara Islam dan mengganti hukum dengan hukum Islan.
Sebenrnya para kaum muda yang intelek ini sedang mencari jati diri dan ketenangan hidup dengan mengkaji lebih jauh tentang wawasan keagamaan. Namun karena lemahnya pengetahuan keagamaan sahabat-sahabat yang dulu bersekolah non agama menjadikan rasa ingin tahu yang tinggi tentang agama dalam hal ini Islam. Mahasiwa ini ingin mencari dan mendalami Islam secara kaffah (sempurna) sehingga pencariannya pun tak terkontrol dengan baik. Semangat yang menggebu-gebu serta rasa keingin tahuan yang luar biasa menyebabkan kaum muda ini menjaddi militan dan fundamental. Artinya bahwa apa yang didapatnya adalah yang paling benar dan menganggap yang lainnya salah. Tentu hal ini menjadi salah kaprah, karena kalau andai itu benar  tidak menjadi masalah jikalau tidak bertentangan dengan Syariat Islam dan Pancasila serta UUD 1945.
Persoalannya adalah bagaimana menyadarkan mereka tentang bagaimana belajar agama Islam yang benar dan tidak menjadi bertentangan dengan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak hanya NII saja di Republik tercinta ini yang mengacaukan NKRI menjadi terpecah belah, tetapi juga ada HTI yang selalu mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Ibu Kota Negara Jakarta ini masih perlu dan sangat membutuhkan sebuah gerakan yang bernaung bersama-sama dengan mahasiswa, pelajar dan pemuda untuk menumbuh kembangkan semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan atau biasa kita kenal rasa Nasionalisme menjadi tanggung jawab semua pihak di Republik tercinta ini.
Pembangunan karakter, menumbuhkan kesamaan diantara perbedaan, menyatukan dengan sebuah ikatan kebangsaan pun belum cukup. Penanaman semangat kebangsaan perlu terus dipupuk dan disiram dengan rasa memiliki bahwa tanah air tercinta ini adalah milik kita bersama. Tanah air yang direbut oleh kaum muda pada waktu itu dengan pengorbanan keringat, darah, air mata, dan nyawa. Semangat patriotisme yang selama ini seolah-olah hanya milik Resimen Mahasiswa saja juga perlu ditularkan kepada kawan-kawan yang masih mudah terombang-ambing pendirianya.
Tugas Berat Menanti Resimen Mahasiswa Jakarta
Pelatihan militer, kegagahan, kemandirian, kecerdasan, serta keteladanan yang dimiliki oleh pasukan Resimen Mahasiswa Jayakarta di Rindam Jaya menjadi pasukan terlatih untuk membela Negara. Tanggal 10 Januari 2012 Resimen Mahasiswa Jayakarta telah selesai mengikuti pendidikan di kawah Candradimuka Rindam Jaya Jakarta. Mereka telah dididik untuk menjadi pembela Negara dengan dibekali berbagai kemampuan, baik kemampuan fisik maupun kemampuan keahlian. Beberapa perwira pun turut menghadiri penutupan acara pendidikan pada hari itu untuk memberikan mejangan dengan harapan Resimen mahasiwa Jayakarta lebih loyal dan lebih siap menjadi garda tedepan membela Negara khususnya ditingkat kemahasiswaan.
Harapan sangat besar ditaruh oleh para pasukan Resimen Mahasiswa tersbut untuk menjaga keutuhan Bangsa ini dan tidak terpengaruh seperti kawan-kawan yang kehilangan semangat kebangsaan. Tidak hanya Pangdam Jaya semata yang memiliki harapan itu tetapi seluruh warga Jayakarta pun menaruh harapan besar untuk menjadi seperti mereka. Dimana kecintaannya terhadap Negara sangat tidak diragukan, tetapi juga memiliki bekal ilmu keintelektualan. Kedisiplinan yang tercermin, kecerdasan yang dimiliki, sifat patriotik, berperilaku ksatria, dan jiwa perwira yang dimilikinya kita jadikan suri tauladan bagi kawan-kawan mahsiswa yang lain.
Resimen Mahasiswa Jayakarta mempunyai tugas membendung segala perilaku yang mengikis rasa Nasionalisme serta menghancurkan elemen-elemen kebangsaan. Berbagai macam cara dan upaya sudah dilakukan oleh orang-orang yang tidak menginginkan keberlangsungan Republik ini. Mengawasi gerak-gerik setiap perkumpulan di kampus dan sekolahan, mewarnai kegiatan di lingkunganya untuk menjadi panutan disetiap kegiatan. Menjadi teman dengan senyum, kerendahan hati, rendah diri, mampu mumukau kawan sejawatnya.
Resimen Mahasiswa Jakarta disamping menjadi Tauladan juga sangat diperlukan keberadaanya di lingkungan baik sekolah maupun rumah. Karena bahaya laten pengaruh ideologi yang akan merusak rasa Nasionalisme kaum muda selalu mengintai disetiap kehidupan dari tingkat Negara hingga keluarga. Musuh Negara yang paling berbahaya justru dari dalam negara itu sendiri, kwalitas ketahanan menjadi rapuh, sistem pertahanan semesta mudah digoyang Di lingkunganya Resimen Mahasiswa Jayakarta harus menjaga diri dan warga sekitarnya untuk terjaga dari pengaruh yang merusak persatuan dan kesatuan. Resimen Mahasiswa Jayakarta juga memiliki tugas untuk mengingatkan merek untuk kembali kepangkuan ibu pertiwi tercinta. Dengan bekal tersebut mampu mengawal dan mendampingi Bangsa Indonesia sampai akhir hayatnya.
Resimen Mahasiswa Jayakarta Tauladan Semangat Nasionalisme Kaum Muda
Resimen Mahasiswa Jayakarta yang sudah berumur 50 tahun (1962-2012) tidak lagi mengangkat senapan untuk berperang. Bersama Tentara nasional Indonesia (TNI) Resimen Mahasiswa Jayakarta menyebarkan kembali semangat kebhineka Tunggal Ika-an kita serta nilai-nilai Pancasila. Dari berbagai macam Reaksi atas kejadian yang mengakibatkan pendangkalan nilai-nilai Pancasila kita tentu menjadi tanggung jawab setiap warga Negara Indonesia. Bangsa Indonesia yang dulu dikenal santun kini menjadi bangsa yang mudah marah, keras dan tidak mudah lagi terkontrol, itu terjadi karena lunturnya nilai ke-Bhinekaan kita.
Nasionalisme atau semangat kebangsaan Indonesia tentu berbeda dengan Negara lain. Rasa Nasionalisme Indonesia lahir dari perbedaan yang begitu banyaknya, sementara Negara lain belum tentu seperti Indonesia. Ideologi Trans nasional baik berupa HTI, atau ideologi neo liberalism menjadi persoalan tersendiri di Republik ini. Mau kita jadi sebagai bagian berbangsa dan bernegara atau kita jadikan sebagai ancaman tersendiri. Namun berpatok kembali kepada Pancasila dan UUD 1945, segala bentuk yang mengancam persatuan dan kesatuan serta keutuhan Republik Indonesia wajib kita lawan.
Resimen mahasiswa Jayakarta bersama segenap elemen bangsa Indonesia baik sipil maupun militer bekerjasama untuk membela Negara disetiap waktu dan dimana pun.  Peranan tidak hanya diucapkan belaka tetapi telah diwujudkan dengan menjadi pengawal dan pembela dalam mepertahankan keutuhan bangsa Indonesia diwilayah lingkungan mahasiswa dan lingkungan keluarga.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi bahan kajian bagi pihak yang terkait.